Masuk ke hari kedua tantangan 10 hari Komunikasi produktif, dilakoni lebih rileks, ketegangan di hari pertama mulai menurun.
***
Si sulung mulai masuk sekolah. Jadi komunikasi saya dengan si sulung saat makan sahur, ba'da Ashar sampai waktu berbuka sebelum berangkat ke masjid.
Komunikasi lebih lancar. Di waktu2 diatas saya mulai bisa menahan tidak memegang hp sehingga obrolan berjalan lebih intens dan natural. Satu hal yang saya dapati saat ngobrol dengan si sulung. Ia seperti sedikit menghindari tatapan mata saya. Entah apa motifnya. Sepertinya menarik untuk dicermati.
***
Naaah
Membahas si tengah lebih menantang nih. Jadwal belajarnya berantakan karena nyaris seharian main dengan alasan ngabuburit. Sampai jadwal sholatpun keteteran.
Dengan karakter bawaannya yang lebih keras dan keukeuh ditambah pembawaan air mukanya, nada bicaranya yang tiba-tiba meninggi seperti sedang marah sering jadi pemantik emosi saya.
Saat diingatkan waktu sholat dan diajak sholat kontan jawab "ga ah" dengan wajah yang saya baca seperti menantang saya untuk marah.
Alhamdulillaah, dengan tantangan komprod ini kesadaran saya untuk dalam mode siaga saat berkomunikasi mulai terbangun.
Biasanya saat menghadapi situasi diatas respon saya spontan mengomentari dengan nasihat plus omelan panjang dengan nada meninggi.
Hari ini respon itu berhasil saya kandangkan. Meski masih menarik napas panjang :D. Saya berusaha menghadapkan muka dan badan saya, menangkap tatap mata si tengah, merendahkan suara dan kata-kata yang keluarpun mulai terkontrol.
Hasilnya si tengah mau pergi berwudhu dan sholat tanpa kata "ga ah" dan wajah mengkerut dan alis keriting :D. Alhamdulillaah
***
Lain lagi dengan si bungsu. Ini hari pertama saya shaum. Tantangannya lumayan dari si bungsu. N*n*nnya tambah sering dan lebih lengket sama saya. Ga mau sama Bapanya. Walhasil beberapa agenda belum tertunaikan karena interupsi si bungsu yang ga kenal waktu dan jadwal si emak.
Tiap saya pegang Qur'an untuk tilawah atau pegang hp untuk membaca dan balas chat si bungsu protes, merengek meminta untuk menyingkirkan benda2 yang jadi saingannya.
Hari ini saya belajar untuk merelakan to do list sebagian tak tertunaikan (tanpa merasa stress dan bersalah berlebihan). Sy fokuskan untuk berlatih memberikan full attention kepada di bungsu. Membalas tatapannya saat menyusui, meluluskan keinginannya saat mengajak bermain dan menyuapinya tanpa saya selingi dengan memegang hp. Alhamdulillaah berhasil and I feel happy.
***
Komunikasi saya dengan suami tadi pagi dimulai dengan obrolan agak serius tentang visi misi keluarga. Ada beberapa poin yang harus kami cari irisannya. Sempat agak menegang walau akhirnya kami sama-sama tersadar wajarlah beberapa hal berbeda. Lha wong FoE dan FoR kami kan tidak 100% sama.
O yaa, tadi pagi ada aktifitas insidental yg kami kerjakan. Listrik di rumah nyala mati- nyala mati sejak semalam. Dan saat sahur mati total. Jadilah pagi menuju siang kami mengurusi kelistrikan rumah dengan memanggil tukang. Rupa-rupanya ada beberapa alat yg harus diganti. Dan ternyata mesin jet pump adalah sebab utamanya. Si jet pump musti diservice. Alhamdulillaah kalo berhadapan dengan "musuh bersama" komunikasi dan gerak saya dan suami bisa dibilang kompak. Salah satu buah perjalanan 15 tahun pernikahan. Alhamdulillaah. Jelang sholat Jum'at urusan kelistrikan kelar. Tinggal urusan jetpump karena si tukang sedang bertugas di tempat lain. Lanjut esok In Syaa Alloh.
Selebihnya komunikasi saya dengan suami hari ini relatif lancar.
Satu hal yang harus mulai dibiasakan lagi adalah membangun eye contact dengan suami, dan menghadirkan perhatian penuh saat berbicara meski hanya obrolan ringan dan ngalor ngidul. Pe Er hari berikutnya nih.
***
Terima kasih Yaa Alloh untuk ilmu dan kesempatan memperbaiki diri hari ini. Semoga Engkau berkenan membukukannya dalam catatan amal sholih hamba. Aamiin
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GamesLevel1
#BunSayBatch2
#Day2
Jumat, Juni 02, 2017
Komunikasi Produktif Day #2
Kamis, Juni 01, 2017
Komunikasi Produktif Day #1
Menerima tantangan 10 hari menata komunikasi yang produktif di keluarga bagi saya di usia yang menuju penghujung kepala tiga terus terang tidaklah mudah. Namun demi perbaikan keluarga, saya ambil tantangan ini. Bismillaah
Setelah membaca berulang materi Komunikasi Produktif, mencermati poin-poinnya, saya malah mendapati hal lain yang musti saya benahi dalam komunikasi dengan suami dan anak-anak.
Perhatian (attention) yang terkadang sangat "alakadarnya" dari saya pada suami dan anak-anak saat merespon pembicaraan mereka. Seringkali saya menjawab dan menanggapi obrolan dengan tangan menggenggam hp dan mata tak beranjak dari layarnya :(. Lain waktu saya menjawab sambil serius memelototi buku yg sedang asyik dibaca :( atau saya jawab ocehan anak-anak sembari masak, ngurus cucian dan segambreng kerjaan lain yang ngantri di pikiran untuk segera diselesaikan.
Berangkat dari kesadaran saya bahwa hal diatas perlu untuk dibenahi, maka saya pilih untuk memperbaiki masalah PERHATIAN saat berkomunikasi.
***
Dibawah ini saya susun langkah yang akan dilakukan :
Perbaiki PERHATIAN (attention) saat berkomunikasi dengan suami dan anak-anak
Langkah-langkah yang akan dilakukan saat proses komunikasi berlangsung
1. Skip sementara aktifitas yang dilakukan (beri tanda baik fisik ataupun di pikiran posisi terakhir agar tidak lupa)
2. Fokus pada lawan komunikasi (suami atau anak) dan proses komunikasi
3. Hadapkan badan
4. Eyes Contact
5. Upayakan perhatian penuh
6. Cerna informasi
7. Beri respon TERBAIK hingga TUNTAS
***
Di hari pertama mencoba tantangan ini. Masih terasa agak kikuk dan tegang hehehe. Berusaha menegakkan kesadaran untuk merespon obrolan suami dan anak-anak dengan full attention. Ternyata yang harus diwaspadai adalah ketika memegang hp. Saya sempat "delay" beberapa detik merespon saat suami menanyakan urusan optik.
Si tengah sempat nyeletuk " ibu klo diajakin ngobrol kadang suka kaya ga denger, terus bilang "hah" terus nanya lagi tadi ngomong apa ...." astaghfirulloh jleb banget curhat si tengah tadi siang saat saya menyengaja mengajaknya curhat.
Hal luar biasa yang saya temukan hari ini adalah saat sedapat mungkin, sesering mungkin menangkap tatapan suami dan anak-anak saat berbicara. Maa Syaa Alloh kutemukan telaga dalam tatap mata mereka. Ada rasa yang sulit terdefinisikan menyelinap di dinding hati saat berbicara sembari beradu pandang dengan mereka. Hal yang sekian lama tak saya sadari dan syukuri.
Alhamdulillaah hari pertama dibuka dengan membangun kesadaran poin poin yang musti dibenahi sekaligus warming up menjalankan langkah-langkah perbaikan yang ingin dijalankan.
Semoga esok lebih baik.
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP
#GamesLevel1
#BunSayBatch2
#Day1


